FSGM IndonesiaFSGM IndonesiaFSGM Indonesia
  • HOME
  • FSGM
    • SEJARAH
    • PROFIL
    • VISI
    • MISI
    • RIWAYAT ST. FRANSISKUS ASSISI
    • RIWAYAT MDR. ANSELMA
    • SPIRITUALITAS
    • STRUKTUR KEPEMIMPINAN
    • DAFTAR KOMUNITAS
  • KARYA KERASULAN
    • PROFIL YAYASAN FRANSISKUS (PENDIDIKAN)
    • PROFIL YAYASAN GEORGIUS (KESEHATAN)
    • PROFIL YAYASAN ANSELMA (SOSIAL)
    • PROFIL JPIC FSGM
  • FORMASI
  • BERITA
  • DAFTAR FSGM
  • KONTAK
Font ResizerAa
FSGM IndonesiaFSGM Indonesia
Font ResizerAa
  • HOME
  • VIDEO
  • FORMATIO
  • DAFTAR JADI FSGM
Search
  • HOME
  • FSGM
    • SEJARAH
    • PROFIL
    • VISI
    • MISI
    • RIWAYAT ST. FRANSISKUS ASSISI
    • RIWAYAT MDR. ANSELMA
    • SPIRITUALITAS
    • STRUKTUR KEPEMIMPINAN
    • DAFTAR KOMUNITAS
  • KARYA KERASULAN
    • PROFIL YAYASAN FRANSISKUS (PENDIDIKAN)
    • PROFIL YAYASAN GEORGIUS (KESEHATAN)
    • PROFIL YAYASAN ANSELMA (SOSIAL)
    • PROFIL JPIC FSGM
  • FORMASI
  • BERITA
  • DAFTAR FSGM
  • KONTAK
Follow US
FSGM Indonesia > BERITA > Tahbisan Imam Diosesan
BERITA

Tahbisan Imam Diosesan

Redaksi
Last updated: 25/03/2025 03:47
Redaksi
Share
6 Min Read
SHARE

Jadi Romo Jangan Lebay

 SEORANG imam/pastor tetap akan sama, tidak kehilangan jati dirinya, bila ia dikutuk, difitnah, dijauhi atau digrenengi (red: Jawa, dipergunjingkan) sekurang-kurangnya oleh ibu-ibu ketika dipandang berbuat salah atau tidak menuruti kemauan umat atau segelintir umat.

Sebaliknya, imam akan dipuji bila mengikuti kata hati atau selera umatnya. Padahal ia adalah guru moral dan penjaga iman, yang dalam dua hal ini tidak harus meminta pendapat umat atau mengikuti selera umatnya.

Demikian Uskup Tanjungkarang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono mengawali homilinya dalam Perayaan Tahbisan lima Imam Diosesan Keuskupan Tanjungkarang, di Paroki St. Yusup Pekerja Tulang Bawang, Unit VI, Kibang Budi Jaya, Lampung, Rabu, 20 Juni 2018.

Kesejatian itu oleh Uskup disampaikan dalam sebuah perumpaan seperti laut. Laut juga tidak akan pernah berubah bila dikutuk atau dipuji manusia. Laut tetaplah laut.

Ketika seorang anak kehilangan sandal di tepi pantai, ia akan mengatakan, pantai itu maling. Ketika seorang nelayan pulang membawa ikan hasil tangkapannya, ia akan mengatakan, laut itu baik sekali. Ketika seorang ibu kehilangan anak saat rekreasi, ibu itu akan mengatakan, laut itu pembunuh.

Ketika seorang anak menemukan bongkahan emas dan terjual dengan harga mahal, ibu itu akan mengatakan, laut menghidupi keluarga kami dan membawa sejahtera.

Maka itu, Uskup Yuwono meminta kepada para calon imam, untuk tidak merisaukan omongan orang karena setiap orang membaca seseorang sesuai dengan pemahaman dan pengalaman mereka yang berbeda-beda. Teruslah melangkah selama Anda benar, dan berada di jalan yang baik, rasional, manusiawi. Meski kebaikan tidak senantiasa melegakan dan dihargai. Tidak perlu repot-repot menjelaskan tentang diri Anda kepada siapa pun. Karena yang menyukai Anda tidak membutuhkan penjelasan, dan yang tidak menyukai pun, juga tidak akan percaya, walau Anda sudah menjelaskannya sampai berbuih-buih.

Selain itu Uskup Yuwono juga meminta para calon imam untuk tetap rendah hati. Dalam kerendahan hati, seseorang akan selalu terhindar dari kesalahan dan hanya akan berjalan dalam kebenaran. Sebab kerendahan hati adalah sikap Allah sendiri yang nyata dalam diri Putra-Nya yang menjadi manusia, Imam Agung, panutan kita. Jika kita salah, katakan saya salah dan minta maaf. Jika kita benar, teruslah berjalan dalam kebenaran.

Uskup Yuwono memohon pula untuk tidak berpikir bagaimana cara membalas dengan yang lebih menyakitkan bila gangguan datang. Namun, berpikirlah bagaimana membalasnya dengan kebaikan. Jangan merusak persaudaraan dan persekutuan, kesatuan, komunio hanya karena kesalahpahaman. Janganlah memulai persahabatan dengan apriori baik dengan rekan kerja, umat, atau komunitas di mana Anda ditugaskan. Tetapi hendaklah tanpa kenal lelah Anda membangun persaudaraan sejati, Gereja Katolik yang kudus.

“Jangan lupa berdoa, itu tugas utama Anda sebagai rohaniwan. Anda adalah pengantara umat kepada Tuhan. Dan, penyalur rahmat Allah kepada umat,” tegas Uskup. Ia menambah, agar mengurangi sikap lebay, manja, suka mengeluh, suka meminta maklum dan pengertian umat. Uskup juga mohon agar para pastor baru ini menyibukkan diri dengan kebaikan sampai keburukan lelah mencobai dan akan menjauh dengan sendirinya.

Tugas imam lainnya adalah menyelamatkan dan bukan menghakimi. Jika harus memaafkan, maafkanlah, jangan pakai tetapi. Jika harus menghargai, hargailah. Juga jangan pakai tetapi. “Hendaklah hati Anda jujur dan ikhlas dan tanpa pamrih. Jangan melewatkan hari tanpa Ekaristi. Ajaklah umatmu juga untuk bersama merayakannya. Umatmu itu juga mempunyai imamat. Imamat rajawi, imamat umum karena Sakramen Baptis. Imamat kaum awam berbeda dengan imamat para tertahbis. Tetapi keduanya mengambil bagian dalam imamat rajawi Yesus Kristus yang satu dan sama, hanya dengan cara berbeda (LG No, 10). Perbedaan ini justru melengkapi satu sama lain,” tegas Mgr. Yuwono.

Uskup mengajak para calon imam untuk hidup dalam kekudusan dengan menjalani kehidupan dalam panggilan khas, dimana pun dan kapan pun. “Jangan takut pada kekudusan. Itu tidak akan menghilangkan energi, vitalitas, atau kegembiraan Anda, Gaudete et Exsultate,”ujar uskup menguti kata Paus Fransiskus.

Jadilah Garam dan Terang Dunia

Para diakon yang tertahbis adalah: Frd. Lukas Raditya, Frd. Fransiskus Xaverius Desta, Frd. Krisantus Ian Bagas Brahmanthio, Frd. Robertus Michael Nopen Saputro, dan Frd. Kristoforus Susanto. Mereka mengambil tema tahbisan ‘Jadilah Garam dan Terang Dunia’ (Matius 5:13-14). Perayaan ini dihadiri sekitar 2.500 umat dan 62 imam dari Keuskupan Jakarta, Palembang, dan Tanjungkarang.

Sebelum perayaan tahbisan berlangsung, Uskup Yohanes Harun Yuwono beserta para diakon disambut dengan tarian asal Jawa Jathilan, dari kelompok Pajar Mataram, Lampung. Mereka ingin menyatakan kegembiraannya bersama umat dalam pesta iman atas tahbisan lima diakon yang akan mengabdi untuk Keuskupan Tanjungkarang.

Jathilan merupakan kesenian yang telah lama dikenal masyarakat Yogyakarta juga sebagian Jawa Tengah. Jathilan juga dikenal dengan nama kuda lumping, kuda kepang, atau jaran kepang.

Tersemat kata “kuda” karena kesenian yang merupakan perpaduan antara seni tari dengan magis ini dimainkan dengan menggunakan properti berupa kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang). ***

 Fransiska FSGM

 

 

TAGGED:ImamTahbisanTanjungkarang
Share This Article
Facebook Copy Link Print

TERBARU

FSGM Membuka Komunitas Baru di Samarinda
HEADLINES
PEMBARUAN KAUL SUSTER YUNIOR
HEADLINES
PASKAH BERSAMA LEGIO PRESIDIUM POHON SUKACITA KAMI
HEADLINES
Sr. M. Leoni FSGM: Berjuang Melawan Ketidakmampuan
BERITA
FKPA Sumbagsel: Kasih Pada Kaum Rentan
HEADLINES
Sr. M. Ludgeri FSGM: Kegembiraan dan Kesulitan Ditanggung Bersama
HEADLINES

TERPOPULER

SEBELAS PEMUDI MELAMAR KE FSGM
HEADLINES
Sejarah
Provinsi
Kepemimpinan
Provinsi
Aspiran
Formatio
Postulan
Formatio
Novisiat
Formatio

You Might Also Like

BERITA

Pelantikan Rm. Y. Sukamto SCJ – Superior SCJ

25/03/2025
BERITA

“BERBICARA DENGAN DIRI SENDIRI”

25/03/2025
BERITA

25 tahun Imamat RD. JB Sujanto

25/03/2025
BERITA

Hari Minggu Panggilan, Stasi Wawasan, Tanjung Bintang

25/03/2025

TERBARU

Tuhan, Ingatlah Aku Bila Saat Matiku Nanti
Renungan
GEGARA ‘ASTUTI’
Renungan
DOA BAGAIKAN BENANG MERAH
Renungan
Bapak Gojek, Maafkan Saya…
Renungan
https://www.youtube.com/watch?v=fDIOwynFx2M

POPULER

Pesta Perak Stasi St. Maria, Dipasena
BERITA
MERAYAKAN DIRGAHAYU RI DALAM KEBERAGAMAAN
BERITA
Identitas FSGM
BERITA
RIP Sr. M. Marakaria FSGM
BERITA
FSGM IndonesiaFSGM Indonesia
Follow US
by. Raka KAJ
Scan the code
WhatsApp
Kamu ingin menjadi Suster FSGM? Ayo kontak kami !
Open chat
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?