Karya perutusan FSGM di Denenkamp, Belanda, yang kini menjadi komunitas St. Antonio Denekamp dalam lingkup Generalat St. Georgius Thuine telah melewati perjalanan panjang.

Tahun 2025 menjadi tonggak istimewa karya FSGM di Denekamp telah mencapai usia 150 tahun. Dalam kurun waktu itu tentu tidak terlepas dari iman, keberanian, pengorbanan, dan kepercayaan para suster pendahulu kepada penyelenggaraan ilahi.
Sejarah itu berawal dari sebuah rumah yang dengan penuh keberanian dibeli oleh Muder M. Anselma pada masa kulturkampf. Rumah tersebut menjadi tempat perlindungan bagi para suster dan kemudian berkembang menjadi salah satu tempat penting dalam sejarah Kongregasi FSGM.

Dari Denekamp pula, benih misi kemudian dibawa ke Indonesia. Pada 5 Mei 1032 para suster misionaris berangkat dari Denekamp menuju Indonesia dan membuka ladang perutusan di Pringsewu.
Dengan demikian, sejarah perutusan FSGM di Provinsi St. Yusup Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sejarah Denekamp. Dari sana benih-benih panggilan dan perutusan ditanam di Indonesia, bertumbuh dan berkembang, serta menghasilkan buah melimpah bagi Gereja, Kongregasi, dan masyarakat.
Waktu terus bergulir… Situasi kehidupan membiara di Denekamp mengalami perubahan. Panggilan semakin berkurang dan dalam waktu yang cukup lama tidak ada lagi calon yang masuk. Banyak biara akhirnya harus ditutup. Namun, Kongregasi tetap menyadari bahwa rumah pertama di Denekamp memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat penting bagi kongregasi FSGM.

Sebagai wujud tanggungjawab bersama dalam Kongregasi, Provinsi St. Yusup Indonesia mulai mengambil bagian secara nyata dalam perutusan di Denekamp dengan mengutus empat suster pada tahun 2000. Selanjutnya dalam kapitel Jenderal 2016, muncul keputusan untuk mempertahankan rumah St. Antonio Denekamp sebagai milik Kongregasi.
Pada September 2017 Dewan Pimpinan Jenderal menegaskan keputusan tersebut sekaligus membuka kemungkinan bagi suatu bentuk perutusan baru dan meminta Provinsi St. Yusup Indonesia untuk ikut merealisasikannya. Maka pada tahun 2018, Provinsi St. Yusup Indonesia kembali mengutus 3 suster untuk berkarya di Komunitas St. Antonio Denekamp.

Tahun 2025 menjadi semakin istimewa karena selain memperingati 150 tahun karya FSGM di Denekamp, kita juga mengenang 25 tahun kehadiran provinsi St. Yusup Indonesia dalam perutusan di Denekamp. Dua tonggak sejarah ini mengajak para suster FSGM bersyukur. Selain itu, menyadari bahwa kita semua bagian dari sebuah sejarah perutusan yang panjang, yang terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karya perutusan Komunitas St. Antonio terus berkembang. Begitu pula di bidang pelayanan rumah retretnya. Banyak orang mencari keheningan dan pembaruan hidup rohani. Ini tanda bahwa rumah yang dibeli dengan iman dan keberanian Mdr. M. Anselma tetap hidup bagi karya pewartaan Gereja dan Kongregasi pada zaman ini.

Melihat kebutuhan perutusan dan menanggapi permintaan Dewan General, Provinsi St. Yusup Indonesia menanggapi permintaan Dewan General untuk menambah tenaga dalam pelayanan di Komunitas St. Antonio Denekamp. Maka, diutuslah Sr. M. Fernanda dan Sr. M. Clarine untuk melanjutkan karya perutusan tersebut.
Kepergian perutusan ini diiringi dan didukung oleh seluruh kekuatan doa dari para suster. Dan diadakan Misa Perutusan yang dipimpin oleh Pastor Paroki St. Yusup Pringsewu, Rm. Imam Mursyid Pr, Kapel St. Yusup, Pringsewu. ***
Dokumen Provinsi


